4 Alasan Rendahnya Angka Kelahiran di Jepang

0
1382

Jepang terkenal sebagai negara yang memiliki angka harapan hidup tertinggi di Asia, hal ini terlihat dari banyaknya lansia yang ada di Jepang dan dari struktur piramida penduduk mereka yang merupakan piramida terbalik, bisa dikatakan bahwa lansia di Jepang lebih banyak daripada orang muda di Jepang. Hal ini juga ada pengaruhnya terhadap rendahnya angka kelahiran yang menyebabkan orang tua makin bertambah banyak di Jepang daripada orang mudanya. Ada beberapa alasan mengapa tingkat kelahiran sangat rendah di Jepang. Untuk kasus rendahnya tingkat angka kelahiran di Jepang, ada istilahnya yaitu shoshika mondai.

1. Sulit untuk merasakan sakit saat melahirkan dan sesudah melahirkan

Masalah ini sudah sangat umum dirasakan oleh para wanita saat mereka ingin melahirkan. Ketika proses kelahiran, maka sebagian besar perempuan akan mengalami sakit yang sangat luar biasa, dan sebagian juga ada yang merasa biasa-biasa saja saat melahirkan. Di Jepang, ketika perempuan sudah ingin melahirkan, mereka lebih memilih untuk pulang kampung karena ada keluarga yang dapat membantu proses kelahirannya.

2. Biaya persalinan mahal

Hal ini merupakan suatu masalah utama yang dilihat dari sudut pandang ekonomi. Karena Jepang memiliki angka harapan hidup yang tinggi, maka otomatis harga barang-barang di sana jauh lebih mahal, begitu pula dengan biaya persalinan di Jepang yang cukup mahal bagi sebagian besar orang. Karena mahalnya biaya persalinan ini, maka beberapa ibu-ibu memilih untuk menunda kehamilan mereka hingga mereka mempunyai biaya untuk persalinan. Saat ini pemerintah Jepang juga telah memberikan bantuan untuk keringanan biaya persalinan di rumah sakit.

3. Hari libur untuk mengurus anak sedikit

Pasca melahirkan, terkadang menjadi tugas suami yang menggantikan posisi ibu untuk mengurus dan merawat anak hingga keadaan ibu pulih kembali. Namun di Jepang, perusahaan kerja hanya membolehkan cuti 1 sampai 5 hari saja untuk para suami, jadi hal ini membuat suami sibuk bekerja, dan istri merawat anak sendirian, jadi istrinya memilih untuk pulang kampung atau memilih tidak punya anak sama sekali.

4. Tidak ada budaya berbagi pekerjaan rumah dengan suami

Di Jepang, pembagian kerja untuk mengurus rumah berbeda dibandingkan negara lain, yaitu paling tinggi 10% suami dan 90% istri. Walaupun hal ini tidak terjadi pada pasangan muda, namun masih banyak pria Jepang yang membiarkan istrinya melakukan kegiatan rumah hingga mengurus anak. Oleh karena ketidakadilan ini, maka kebanyakan istri di Jepang memilih pulang kampung atau tidak ingin hamil sama sekali.

5. Pandangan Orang Jepang dalam Mengurus Anak

Megurus anak memang merupakan suatu beban dan tanggung jawab berat bagi orang tua, tak terkecuali di Jepang. Karena biaya hidup di Jepang yang cukup mahal, maka orang tua harus bekerja keras untuk membesarkan anak-anak mereka. Dalam hal membesarkan anak, orang Jepang juga memiliki berbagai macam pandangan mengenai norma dan tata cara membesarkan anak. Misalnya mulai dari keperluan sekolah anak, menyiapkan bekal untuk anak, biasanya ibu membuatkan bekal yang lucu untuk anaknya, dan terkadang dalam prosesnya, bisa terjadi pandangan diantara suami dan istri. Dan juga, bagi sebagian besar orang Jepang, mengurus anak itu adalah hal yang sangat merepotkan, karena sibuknya pekerjaan mereka maka hanya sedikit waktu yang tersisa untuk mengurus anak. Hal ini lah yang membuat orang Jepang banyak menunda kelahiran, atau bahkan memilih untuk tidak punya anak sama sekali.

Jika tingkat kelahiran di Jepang terus menurun, maka bagaimana dengan populasi Jepang di masa yang akan datang? Apakah populasi Jepang akan menurun juga jumlahnya? Kalau dibandingkan dengan Indonesia, maka tingkat angka kelahiran di Indonesia sangat tinggi dibandingkan dengan negara Jepang. Namun, tingginya angka kelahiran di negara Indonesia juga membawa masalah serius, yaitu ancaman kepadatan, dan bahkan banyak anak yang ditelantarkan oleh orang tua yang enggan mengurus anaknya.