Kamus Jepang merevisi definisi dari kata “Cinta” dan “Seks”

1
1928

Salah satu pemimpin kamus Jepang telah membuat perubahan signifikan tentang normalisasi homoseksualitas dengan merevisi entri dari kata-kata yang berhubungan dengan cinta dan seks. Mereka menghilankan referensi yang dibatasi terhadap perasaan tersebut yang hanya berlaku untuk seorang pria dan seorang wanita, membuat definisi baru yakni cinta untuk semua orang – gay, straight, dll.

Edisi terbaru dari Sanseido Kokugo Jiten atau Kamus Bahasa Nasional, telah direvisi, definisi dari kata yang berhubungan dengan cinta dan seks, menghilankan referensi seksual yang normal antara pria dan wanita. Pada saat ini banyak orang yang sependapat, walaupun mereka tidak setuju dengan revisi ini, bahwa cinta dan seks tidak harus dibatasi antara kaum pria dan wanita saja (yang berlawanan jenis). Keinginan Cinta dan seks ditentukan melalui berbagai bentuk, tidak semua dari mereka heteroseksual ataupun homoseksual. Sosial menjadi lebih sadar bahwa ada orang yang menggunakan label alternatif untuk jenis kelamin mereka seperti transgender, atau mungkin menghapus hal yang membatasi kualifikasi itu terihat seperti pengembangan logis yang mengejutkan selama ini.

Hiroaki Ima, komisi editing, menjelaskan hal ini dalam sebuah tweet:

“In the 7th edition of the ‘Sanseido National Language Dictionary’ we have revised the descriptions for entries relating to love and sex that included unnecessary references to ‘heterosexuality’. ‘Love’, ‘(romantic) chemistry’, ‘carnal desire’…and so on, are not limited to between men and women. For example, we have changed ‘love’ and ‘carnal desire’ in the following way.”

Berikut ini adalah terjemahan yang melihatkan perubahan yang telah dbuat terhadap dua entri. Edisi ke-6 diterbitkan tahun 2008, edisi ke-7 pada tahun 2014.

Love (koi – digunakan eksklusif untuk cinta yang romantis)

edisi keenam
Perasaan tidak terpadamkan antara seorang pria dan wanita, yang saling ingin melihat satu sama lain, dan selalu ingin bersama.

edisi ketujuh
Mempunyai perasaan terhadap seseorang, selalu ingin melihatnya, dan selalu ingin bersama mereka.

Keinginan Jasmani (shikijou)

edisi keenam
Perasaan keinginan seksual antara pria dan wanita

edisi ketujuh
Perasaan keinginan seksual

Due to the organic and changing nature of language, dictionaries periodically have to be revised with new words or updated meanings. Another example is the word ‘yabai‘ which used to be exclusively used in a negative context, but which is now used positively too, especially among young people. For example, a huge earthquake is yabai, but so is bumping into your all time favourite K-pop star and getting his autograph. Dictionaries are also supposed to offer an explanation of words that is as non-biased as possible, so continuing to ignore a definition would be akin to the publisher seeming to push a particular agenda.

Karena perubahan bahasa secara alami, kamuspun secara periodik harus direvisi dengan kata baru dan definisi baru. Contoh lain adalah “yabai” yang digunakan dalam konteks negatif, tapi sekarang digunakan dalam konteks yang positif juga, terutama dikalangan orang muda. Contohnya, sebuah gempa besar adalah yabai, tapi juga membenturkan kepada sepanjang waktumu terhadap K-pop star. Kamus juga seharunya menjelaskan kata-kata non-bias sebisa mungkin, jadi mengabaikan definisi bisa menjadi tambang kepada penerbit seakan mendorong agenda tertentu.

Sosial mempengaruhi bahasa dan sebaliknya dalam cara yang kompleks, dan pembaruan pada kamus ini terlihat seperti langkah lanjut terhadap hak gay di Jepang. Berharap kamus lain juga mengikuti menghapus referensi yang usang.

 

Keywords
  • sek jepang