Mitologi Asal-usul Negeri Jepang (Shinwa) – Siklus Takamagahara Part 1

0
706

Siklus Takamagahara adalah salah satu dari tiga siklus mitologi Jepang yang disebutkan dalam Kojiki dan Nihon Shoki. Siklus Takamagahara mengisahkan tentang dewa-dewa yang muncul pada masa awal penciptaan dunia. Berikut ini adalah artikel bagaimana tentang siklus Takamagahara dan bagaimana kisah dari siklus tersebut.

 

Pada waktu surga-surga dan bumi untuk pertama kalinya terpisah, muncullah tiga dewa dari generasi pertama. Mereka itu adalah Ame no Minakanushi no KamiTakamimusubi no Kami, dan Lamimusubi no Kami. Mereka ini kemudian menyembunyikan diri. Pada masa itu daratan masih muda, mengambang bagaikan minyak, atau bagaikan ubur-ubur. Kemudian muncullah lagi dua dewa yaitu Umashiashi Kanihikoji no Kami dan Ame no Tokotachi no Kami, yang juga menyembunyikan diri. Kelima dewa pertama (kotoamatsukami) ini berkumpul dan hidup memisahkan diri dari lingkungan. Kemudian muncullah dewa Kuni no Kototachi no Kami dan Toyokumono no Kami, mereka pun menyendiri. Lalu muncul lima pasang dewa lagi, pasangan terakhir Izanagi no Mikoto dan Izanami no Mikoto, diperintahkan oleh lima dewa pertama untuk membuat agar tanah tetap berada di tempat. Mereka dihadiahi tombak yang ditaburi permata (Ame no Nuboko). Izanagi dan Izanami berdiri di atas jembatan mengambang dari surga (Ame no Ukihashi) dan menusukkan tombaknya ke dalam laut. Setelah mengaduk-aduk dengan tombaknya tersebut, mereka mengangkat tombaknya. Dari ujungnya menetes air garam, yang kemudian tetesan tersebut berkumpul dan tumbuh, untuk kemudian menjadi tanah yang bergumpal sendiri (onogorojima).Kemudian, kedua dewa tersebut turun ke bumi dan melihat sebuah pilar dan menegakkannya dan mereka pun membuat sebuah rumah yang besar. Dan keduanya kemudian menikah.

Loh? Kok dewa bisa menikah, apa yang terjadi sebenarnya? Jika kamu ingin tau apa yang terjadi selanjutnya, teruslah membaca artikel ini di JapanDaisuki.com.

Dan kemudian, Izanagi menanyakan Izanami, “Bagaimana tubuhmu terbentuk?” Lalu Izanami menjawab, “Tubuhku sudah terbentuk, tetapi ada bagian yang belum selesai terbentuk.” Kemudian Izanagi kembali bertanya lagi pada Izanami, “Tubuhku sudah terbentuk, tetapi ada bagian yang kelebihan bentuknya. Aku rasa akan senang jika aku mengambil bagian yang kelebihan ini dan mengisinya di bagianmu yang belum lengkap dan membangun tanah ini, bagaimana pendapatmu? Lalu Izanami pun menyetujuinya, dan mereka pun mengelilingi pilar. Izanami ke kanan, dan Izanami ke kiri. Pada saat mereka saling bertemu, Izanami berteriak, “Aah, pria yang baik!” Izanagi menjawab bahwa tidak pantas seorang wanita berbicara lebih dulu, kendati demikian mereka pun saling jatuh cinta dan melakukan hubungan seksual dan melahirkan bayi yang diberi nama Hiruko, tetapi mereka membuang Hiruko dengan meletakannya di atas perahu yang terbuat dari jerami.

Dan setelah itu lahir juga Pulau Awajishima, tapi baik pulau itu dan bayi Hiruko tidak mereka hitung sebagai anak-anak mereka. Dan kemudian setelah Pulau Awajishima lahir, lahir juga berbagai pulau lainnya satu per satu seperti Pulau Shikoku, Pulau Kyuushuu, Pulau Honshu.

Lalu mereka kembali ke Takamagahara dan diberitahu oleh kelima dewa pertama bahwa mereka harus melingkari lagi pilar tersebut, dan setelah bertemu lagi, dewa pria harus berbicara terlebih dulu. Setelah selesai melakukan ini, delapan dewa yang menjadi tanah dari delapan pulau-pulau besar (Ooyashimaguni) dilahirkan, dan setelah itu dewa-dewa laut, sungai, gunung, sawah, pohon batu, dan api juga dilahirkan. Tetapi, Izanami terbakar saat melahirkan dewa api, dan kemudian meninggal.

Tetapi pada saat kematiannya, dari muntahan dan kotorannya terlahirlah dewa logam, tanah, dan air. Kemudian Izanagi memenggal kepala dewa api, dan dari darah yang menetes dari pedangnya tersebut lahir delapan dewa, dari tubuh dewa api juga lahir delapan dewa lagi.

Kemudian Izanami pergi ke dunia orang mati (Yomi no Kuni), dan Izanagi menyusul untuk memohon agar ia mau kembali ke dunia orang hidup.

Aisuru tsuma yo, watashi to omae no kunizukuri wa mada owatte inai. Douka isshou ni chijou e kaette o kure.” Kata Izanagi.

Kemudian Izanami dengan suara yang sedih menjawab, “Doushite, motto hayaku kite kurenakatta no desu ka? Watashi wa sore ni Yomi no Kuni no tabemono o tabete shimai. Chijou e wa modorenai no desu. Demo aisuru anata no tame ni chijou e kaette mo yoi ka douka Yomi no Kuni no kamisama ni tazunete mimasu. Soremade, matte ite kudasai.”

Izanami menyetujuinya untuk meminta izin dari dewa-dewa yang ada di Yomi, tetapi melarang suaminya untuk melihat dia. Dan, Izanami tidak mendapat lagi jawaban dari istrinya setelah menunggu, tidak sabar atas kedatangan istrinya, Izanagi menerobos masuk ke dalam istana dewa orang mati, di sana ia mendapatkan jenazah istrinya yang sudah dipenuhi oleh ulat.

Ia kemudian lari, dan istrinya yang merasa dipermalukan, mengirim para tentara dewa Yomi untuk memburu Izanagi. Pada bagian datar dari lereng Yomi (Yomotsu Hirasaka) di perbatasan dari wilayah itu, Izanagi melawan para tentara dengan menggunakan sisir dan aksesoris rambut yang berubah menjadi pohon bambu sehingga mereka tercerai berai.

Izanagi kemudian melawan para tentara dengan melemparkan tiga buah persik ke tentara-tentara tersebut.

Izanami kemudian mengejarnya sendiri, tetapi Izanagi membendung jalan masuknya dengan batu yang besar.

Dan dari balik batu itu, ia kemudian memaklumkan perceraian mereka. Izanami kemudian menyatakan bahwa setiap hari ia akan mencekik seribu orang dari dunia orang hidup, dan kemudian Izanagi menjawab bahwa ia setiap hari akan mendirikan 1500 gubuk bagi orang melahirkan anak, sehingga setiap hari dapat melahirkan 1500 bayi.

Karena telah pergi ke dunia orang mati, maka Izanagi menjadi kotor, dan setelah itu ia menuju ke Tsukushi untuk menyucikan dirinya dengan mandi (misogi). Dari setiap lembar pakaian yang terbuang, terciptalah seorang dewa, dari kotoran yang ia bersihkan terciptalah dua dewa pencemar. Dua dewa penyuci kemudian diciptakan (Naobi no Kami), dan ditambah lagi dengan 10 orang dewa. Tiga dewa terakhir ialah Amaterasu Oomikami (dewi matahari), lahir dari mata kirinya sewaktu dibersihkan. Tsukuyomi no Mikoto (dewa bulan) lahir dari mata kanannya, dan Susanoo no Mikoto (dewa badai) lahir dari hidungnya. Izanagi kemudian memberi tugas kepada Amaterasu untuk memerintah Dataran Tinggi Surga (Takamagahara), kepada Tsukuyomi untuk memerintah alam malam, dan kepada Susanoo untuk memerintah wilayah lautan. Tetapi Susanoo terus-menerus menangis, dan ketika ditanya mengapa ia menangis, ia ingin melihat ibunya. Izanagi pun marah, dan mengucilkan Susanoo.

(Bersambung……..)